Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Sang Pengembara

Ku menangisi keadaan
Ku menangisi sesuatu
Di dasar replika kehidupan
Sambil memohon kemurkaan

Slalu ucapkan kata salah
Bila tiada keindahan
Di dinding wajah-wajah
Sang pengembara

Ia menghancurkan ucapan
Dalam hati sang pemimpi
Dan berbahasa keras
Layaknya ular mendesis

Tapi...
Hati ular tiada bisa
Menghasilkan madu murni
Bagi sang pengembara sejati

Karya : Muh Herjan

Tuhan

Aku telah membunuh para dewa matahari
Aku telah membunuh para ratu alam
Mengapa...?
Rinduku sebagai kebencian
Cintaku sebagai kebencian
Dan kebencian untuk kebencian
Pada satu titik
Yang kusebut sebagai paku raga

Entah apakah aku seorang penghianat
Entah apakah aku seorang pecundang
Bila tiap waktu bernyanyi
Slalu saja aku berperan sebagai pembunuh makhluk tak berdarah
Meracuni dengan udara dan pewangi

Tuhan...
Dimanakah cintamu
Yang maha dari segala untaian maha
Bersemayamkah dalam lubang-lubang langit
Atau pada mereka si rupawan saja
Sebenarnya bangkai berbelatungpun merindukan
Sang kasih...
Sang sayang...
Sang cinta...
Untuk ia tetap hidup
Untuk ia tetap menikmati

Tuhan...
Ucapku tak hanya sebagai penyair gadungan
Kataku tak hanya omongan gombal
Tetapi jiwaku yang slalu marah karena keterpurukan kondisi
Merana...
Melihat...
Membenci...

Apakah aku mempunyai tulang rusuk
Apakah aku mempunyai penyangga kepala
Aku tidak tahu
Yang aku tahu
Para sel tubuhku berbicara
Agar mendapatkan darah seutuhnya


Karya : Muh Herjan

Matahariku

Ketika hati berkorban pada perasaan
Ketika malam mengasuh fajar
Ketika angin menggenggam rembulan
Dan ketika langit membunuh bintang-bintang

Namun aku tak akan pernah
Menemukan sinar di sela dunia pujaan
Rasanya percuma saja matahariku
Tersenyum dan menari riang
Bila sinarnya tak juga menuntun jiwa dan doa

Matahariku...
Matahariku...
Sebenarnya ini sebuah dilema
Suatu raga yang meragakan pilihan
Suatu wicara yang merelakan kepastian
Sampai suatu kebanggaan yang merindukan kasih sayang

Karya : Muh Herjan

Cinta Angan-Angan

Membaca kata yang pernah aku cinta
Seperti lenyap sudah suatu harapan

Cinta kini menjadi abu
Abu kini terhempas badai
Badai perlahan membaur udara
Udara menghilang di telan panas
Dan panas...
Mengubah suatu rasa lara
Menjadi kebencian yang luar biasa

Slalu aku berbicara pada embun pagi
Tapi tak juga badai menembalikan abu cinta
Slalu aku berbicara pada sang rembulan
Tapi hanya pengharapan
Dan berakhir menjadi cinta angan-angan

Karya : Muh Herjan

Akankah

Saat hidup terbawa waktu
Aku menunggu
Aku menanti
Dirimu turun dari awan-awan



Akan kuistirahatkan hati ini
Di dalam hatimu
Sedalam-dalamnya
Sedalam langit berlubang 


Akankah ini
Mengubah takdir hatiku
Sampai akhirnya
Cinta tertanam layaknya benih



Akankah semua
Meluluhkan perasaan sayang
Sampai waktunya
Cinta bersemi layaknya benih



By : Muh Herjan





Cinta

Ketika aku menjadi kesedihan yang tak ujung berakhir
Cintaku hanya rasa
Cintaku hanya cinta
Cintaku hanya kosong

Masihkah aku mampu
Mempunyai cinta
Menyentuh cinta
Merasakan cinta
Tanpa rasa sakit
Tanpa hanya bayangan

Aku berbicara Tuhan
Cintaku hanya angan-angan

Aku memohon Tuhan
Hidupkan cintaku
Bunuhlah cintaku
Kalau tidak
Ijinkan aku mencintaiMu

By : Muh Herjan

Tiba



Jika penantianku tiba
Kusakit tak berdaya
Kurindukan dan kurasakan  
Tibaku tidak akan lama

Rintihan doa doa

Kubaca, kudengar, dan kurasakan
Hatiku menangis sunyi
Di dalam diriku ini

Jika tibaku bersama

Aku tersenyum dengan rasa sakit
Dengan taubat hati 
Diriku tersenyum kembali

Jika tibaku di tempat suci

Hatiku tenang
Aku tertawa pelan
Menanti tiba kemudian


By : Muh Herjan

Mendamba


Hirup hirau daku mendiri
Mengetuk pintu sangbuana ruang
Bagai mawar menangis berdiri
Apa kerliapan kan ku buang

Lesap silir angin di kalbu
Racuh aku dalam genggammuu
Wahai dikau cahaya ratu
Sampai lepas tegak ku tunggu

Kinantan alam hati mendamba
Ruh diimu tak pernah sembada
Bagiku di dunia fana
Apa bodoh hamba merana

By : Muh Herjan

Kupu-Kupu bersayap Sembilan


Kisahku…
Menggambarkan bayangan dan mimpi
Ragaku mawar berduri emas
Mudaku laba-laba pemangsa
Di sebuah negri menara

Aku…
Telah menjadi pemegang mahkota
Sedih tangisku
Tiada dari merpati betina
Di sampingku
Sebagai kupu-kupu bersayap Sembilan

Lalu masa mengitari Negara
Kupu-kupu bersayap Sembilan
Hadir tanpa sebuah pangggilan

Rasa raga
Bulan membentuk daun waru
Hidup menjadi air kemerlap
Untukku…
Disini…
Disisiku…

By : Muh Herjan

Ijinkan Aku

Bila aku terus berjalan
Di atas sebuah nasib dalam semesta
Aku akan terus mengharukan kenangan dari hati
Aku akan terus merasakan bayangan dari rasa

Bila aku adalah pelangi
Yang melintang di kanvas langit
Melingkar di atas dunia
Aku akan terus membaca kata-kata kian tertulis
Di lautan
Di daratan
Di angan-angan
Bahkan sampai kata-kata itu terbakar api

Sang pujaan hati
Ijinkan aku menggapai pelangi
Merasakan...
Dan menyentuhnya

By : Muh Herjan

Akulah

Dari sejuta cerita
Akulah pengelana dunia
Berlari...
Berjalan...
Sampai merangkak
Membunuh angin yang menerjang


Dari sejuta catatan
Akulah penulis
Membuka...
Merangkai...
Sampai menutup
Merobek kertas yang merayu


Akulah hidup
Akulah mati
Akulah hitam
Akulah putih
Akulah terang
Akulah gelap
Akulah jiwa terdampar


By : Muh Herjan

Hanya Tuk Diriku

Biarkan aku menjadi bulan
Biarkan aku menjadi matahari
Biarkan aku menjadi bintang-bintang
Dan biarkan aku menjadi langit semua warna

Aku kan mengusap jalan dari nafas hidup
Aku kan merangkai hidup dalam jalan nafas
Aku kan menempuh hampa dariku
Dan aku kan jalani diriku hampa

Asap aku kabur
Udara aku menghilang
Dan aku tidaklah mati
Masih berjalan bersama pemerindu

Bisakah aku melepas ada
Bisakah aku hamparkan rasa
Bisakah aku hidupkan masa
Hanya tuk diriku
Disini di dalam dada

by : Muh Herjan

Jembatan Bulan

Sesampainya aku
Telah melihat atau berjuang
Dan menunjukkan pantas hati
Meski ingkaran terbuang dalamku

Sepertinya jauh sejauh ribuan mil
Apa jalan jembatan bulan
Ku berharap akan runtuh
Tertabrak komet dan atau meteor

Ijinkanlah pertama ucapku
Menyihir semua hayalan
Sampai ujung dari  kisah jembatan bulan
Seindah rela dan ikhlas
Hanya terbuang dalammu

By : Muh Herjan

Hari Dalam Rangkaian

Puncak tertinggi dalam masa
Menjalar jiwa-jiwa penuh rindu
Menempel pada sarang-sarang
Menetap harus berayun merdu

Kekeringan menyerap daun-daun
Kabur terhempas badai
Bertebaran seakan dunia baru
Menempel melekat pada dinding

Hati tajam membacok sesuatu
Setajam sampai darah menhujan
Berair murni diminum seteguk
Kehidupan telah memudar abu-abu
Di hari dalam rangkaian

By : Muh Herjan

Pedih

Mengapa semua lara
Penuh pedih dalam tangisan
Ku berbunga kasih dan sayang
Pada ribuan hati mulia

Kutemukan sesungguhnya sunia
Biar pengap hirau rindukan
Seutuhnya menjadi alasan
Sejati berperang melindungi hati

Walau gunung berdiri merana
Ku terbang melewati awan-awan
Mengitari merana dalam sunyi
Menancapkan cinta di puncak tertinggi

By : Muh Herjan

Mengharap Bulan

Saat bagai dalam sangkar
Mimpi tak lagi terlihat sempurna
Meski wangi pada ciuman
Sebelum dari akhir mata membuka

Penangkaran dalam perasaan
Pengap lara slimuti cahaya rindu
Di hatiku
Tempat berpesta kasih dan damai

Wahai darah cinta tulus
Kemanakah kuletakkan pungguk ini
Untuk mengharapkan bulan
Dan dimanakah buah dari kasih sayang
Dapat kubagikan pada ikan dan burungf-burung

By : Muh Herjan

Pengantar Syair

Aku adalah pengantar syair
Dari suatu bukti semesta
Apakah lugas untuk bercerita
Kepada si para melata

Siapakah aku terhadap neraca
Di saat cinta menjadi bencana
Di rumah-rumah yaitu negri
Di angan-angan yaitu ilusi

Pernahkah aku menimbang angin
Ketika masa adalah bagian samudra
Dan waktu adalah bagian langit
Pada suatu petarungan sengit

Aku bertanya pada matahari
Untuk menyampaikan ringkasan kata hati
Kepada si penguasa jagad sanubari
Bagaimanakah misteri dimensi ini

By : Muh Herjan

Cerita Dari Putri

Cerita dari Putri
Jelita Ia Matahari Senja
Bunga Tunduk memuja rupa
Di waktu tiada rasa


Ia kelapa muda bagi tupai
Wajahnya menhancurkan tahtanya
Derita berlari mengunjung ribuan kilat
Seperti permata hancur dalam cahaya


Sedih...
Sekarang jiwanya apel bernoda
Tiada alam menjunjung
Tiada merayu kumbang pada bunga


Sendu langit berawan hitam
Tak menemukan di sela dunia pujaan
Menangisi nanah dan darah
Yang membuat dirinya layaknya matahari berbintik


Sampai dalam sajadah biru luas
Merebusnya tubuh merendam
Bunga kembali mekar dari kekeringan
Menjadi kuntum tiada layu


By : Muh Herjan

Kesakitan

Antara suatu kisah atau legenda
Aku berdiri setengah tegak
Di antara dua buah bintang
Bintang bajang dan bintang kejora

Aku berada dalam jalan curam
Hitam penuh kesakitan
Hidupku seakan awan mendung
Menampung jutaan liter air

Dimanakah aku harus bicara
Kemanakah aku harus bercerita
Semuanya keparat...
Keparat dusun
Keparat desa
Keparat negri
Hingga keparat dunia

Dapatkah aku sekarang
Berdiri setengah tegak
Atau berdiri tegak
Sampai waktuku
Sampai akhir kisahku

By : Muh Herjan